Sejarah Air Panas Penatahan

Jika anda sudah pernah berkunjung ke obyek wisata Air Panas Penatahan, ada baiknya baca artikel berikut yaitu sejarah  sumber air panas  di Desa Penatahan tersebut.

Air Panas Penatahan

Sumber mata air panasnya berasal dari tengah pura dan di bawah pohon beringin. Tahun diketemukannya sumber air panas ini tak diketahui dengan jelas. Hanya saja, masyarakat sekitar telah puluhan tahun memanfaatkan air panas yang keluar dari bawah pura itu sebagai obat penyakit kulit.

Pada umumnya air panas di Bali ini berasal dari gunung berapi. Tapi, Yeh Panes Penatahan ini lain daripada yang lain. Tempat ini jauh sekali dengan gunung berapi. Ada tiga gunung tidak aktif yang masuk di dalam Kabupaten Tabanan, yaitu Sanghyang, Watukaru, dan Mangu. Sementara gunung yang aktif adalah Batur di Kintamani yang letaknya jauh sekali dari Penebel. Jadi di sini murni berasal dari bawah pura, hal ini dikemukan oleh penjaga yang menempati objek wisata tersebut.

Adapun cerita rakyat yang mendukung kepercayaan masyarakat disana bahwa dahulu ada sebuah kerajaan yang bernama Kerajaan “Penulisan” dengan rajanya bernama Jaya Wikramayang pada saat itu dalam keadaan menderita sakit kulit yang sangat parah. Atas himbauan Patih Agus Satya Wacana, beliau disarankan untuk berobat ke Pedukuhan “Lampah” pada seorang dukuh yang bernama Ki Dukuh Tangkas.

Padukuhan ini terletak di sebelah Utara Hutan Rajeg Uru (yang sekarang diberi nama Desa Jegu) di pinggir Sungai Ho. Dalam perjalanan beliau menuju hutan atau ke Padukuhan Lampah, beliau digoda oleh seekor kera di Hutan Rajeg Uru itu. Setelah diselidiki ternyata kera tersebut adalah among-among atau kera kesayangan Ki Dukuh Tangkas. Setelah Ki Dukuh Tangkas mengetahui maksud dan tujuan sang Raja maka Ki Dukuh mengajarkan pengobatan yang bernama “Usadha Bhakti” atau “Usadha Bhaktam”, dengan jalan meditasi atau bersemadhi. Pada suatu hari yang baik, Sang Raja dengan didampingi oleh Ki Dukuh duduk bersila dan melakukan semadhi dan atas kekuatan bathin dan waranugraha Ida Sang Hyang Widi Wasa maka dari dalam tanah menyemburlah air panas, dan kemudian atas petunjuk Ki Dukuh, Sang Raja disarankan untuk mandi setiap Kajeng Kliwon Ugu dan sampai mendapatkan kesembuhan.

Karena ketekunan dan keyakinan Sang Raja serta dengan doa yang khusuk hingga terjadi suatu keajaiban yaitu keluarlah semburan air panas yang diyakini sebagai obat menyembuhkan penyakit Sang Raja. Dan sebagai ucapan terimakasih Sang Raja kepada Tuhan Yang Maha Esa maka ditempat itu didirikan sebuah Pura yang bernama Pura “We Brahma” atau “Toya Anget”. Dan tempat Pesraman (Pedukuhan) tersebut oleh para siswa dan seperti sentana Ki Dukuh didirikan Tugu Peringatan berupa tempat suci yang diberi nama “Pura Lampah” di sebelah Timur Yeh Panes sekarang.

Selanjutnya pengikut Sang Raja dan Ki Dukuh menyebar ke Barat Laut kemudian Banjarnya diberi nama “Bangkiang Sidem” yang artinya Sang Raja telah sembuh, diberi nama “Penatahan” yang berarti perjalanan beliau lancar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s