Museum Gunung Api Batur Di Penelokan Kintamani


Salah satu museum yang baru diresmikan pada 10 Mei 2007 adalah Museum Gunung Api Batur yang terletak di Taman Wisata Alam Penelokan Kintamani, Bangli. Museum ini diresmikan oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Purnomo Yusgiantoro dan memiliki tujuan untuk memperkaya khasanah pengetahuan masyarakat akan gunung berapi di Indonesia, dan Gunung Batur pada khususnya.

Gunung Batur dengan tinggi 1.717 meter ini merupakan salah satu gunung api yang masih aktif di Indonesia. Di sekitar Gunung Batur, terdapat Danau Batur yang indah dan juga masyarakat Trunyan yang hidup di sekitar kaki gunung. Menurut kepercayaan masyarakat Bali, gunung ini, konon merupakan puncak dari Gunung Mahameru yang berada di Pulau Jawa.

Koleksi museum berupa aneka jenis batuan yang berasal dari gunung berapi serta penjelasannya. Lalu juga terdapat beberapa peralatan yang digunakan ilmuwan untuk meneliti gunung berapi. Serta foto-foto Gunung Batur dan beberapa gunung berapi yang ada di Indonesia serta penjelasannya. Selain itu, mitologi yang bersangkutan dengan Gunung Batur, juga dijelaskan di museum ini. Segala hal yang berhubungan dengan gunung berapi, dapat Anda lihat dan pelajari di Museum Gunung Api Batur.

Selain itu, di museum ini anda dapat menyaksikan film dokumenter tentang perkembangan Gunung Batur dan sejarah-sejarah letusannya yang dahsyat. Anda juga dapat menyaksikan aktivitas Gunung Batur dari ruang pengamatan dengan menggunakan teropong.

Untuk bisa masuk ke museum ini, anda harus membeli tiket masuknya seharga Rp20.000 (dewasa) dan Rp 15.000 (anak-anak). Museum Gunung Api Batur memang menjadi obyek wisata pendidikan untuk para pelajar dan ilmuwan yang ingin belajar tentang geologi dan aktifitas gunung berapi, ditambah dengan cuaca yang sejuk dan pemandangan alam yang indah, museum ini bisa anda coba kunjungi pas liburan di Bali.


Foto-foto dari: http://travel.detik.com

Berwisata Kuliner Di Penelokan Kintamani


Restoran Di Penelokan Kintamani

Ini dia referensi buat anda yang doyan berwisata kulinerdan kebetulan sedang berlibur di Bali khususnya daerah seputaran Kintamani, Bangli. Penelokan Kintamani terkenal dengan pemandangan danau dan gunung Batur yang sangat indah. Rata-rata restoran dan rumah makan di Penelokan ini menawarkan sensasi makan sambil melihat pemandangan kaldera gunung Batur.

Itulah kelebihan restoran di Kintamani ini sehingga tidak heran, ribuan wisatawan domestik dan mancanegara singgah setiap harinya untuk makan sambil melihat pemandangan gunung Batur.

Berikut daftar restoran di Penelokan Kintamani:

No. Nama Telp. / Fax
1 Restoran Nusantara Surya Sari (0366) 51033
2 Restoran Batur Indah (0366) 51020
3 Restoran Batur Sari (0366) 51007
4 Restoran Bumi Ayu (0366) 52345
5 Restoran Gong Dewata (0366) 51036
6 Restoran Gunung Sari (0366) 52365
7 Restoran Panca Yoga (0366) 52378
8 Restoran Pitaloka (0366) 52510
9 Restoran Puncak Sari (0366) 51394
10 Restoran Puri Batur
11 Restoran Puri Sanjaya (0366) 51290
12 Restoran Suling Bali (0366) 51171
13 Rumah Makan Oka Sari Merta (0366) 51086
14 Rumah Makan Ramana
15 Rumah Makan Surya Indah
16 Rumah Makan Wibisana

Semoga referensi restoran di Penelokan ini bermamfaat.

Agrowisata Desa Catur Kintamani


Kintamani terkenal oleh dua hasil perkebunan yaitu jeruk Kintamani dan Kopi Kintamani. Kedua hasil perkebunan tersebut sudah terkenal bahkan kopinya sudah diekspor ke mancanegara.

Salah satu desa di Kintamani Bangli yang terkenal dengan jeruk dan kopinya adalah desa Catur. Desa ini terletak 12 km barat laut dari kota kecamatan Kintamani. Desa Catur merupakan salah satu daerah dingin yang memiliki potensi alam yang sangat menarik. Desa Catur ini terletak di ketinggian 1250 m di atas permukaan laut. Desa ini memiliki luas 746 Ha tanah yang terbagi menjadi tegalan seluas 630,25 Ha, perkebunan rakyat seluas 320 Ha dan Hutan seluas 60 Ha.

Desa ini merupakan salah satu daerah yang memiliki tanah yang subur, sehingga tidak dapat dipungkiri lagi bahwa daerah ini merupakan salah satu daerah pertanian dan perkebunan terluas di Bali. Di desa catur, pertanian dan perkebunan selalu diawasi oleh dinas Pertanian, Perkebunan, dan Perhutanan kecamatan Kintamani, sehingga kualitas produk pertanian yang mereka miliki selalu memiliki kualitas yang terjamin dan mampu bersaing dalam dunia perdagangan produk pertanian maupun produk olahan pertanian.

Mengunjungi desa ini anda akan menemukan perkebunan jeruk dan kopi yang sangat luas. Desa ini sangat dikenal sebagai penghasil kopi arabika yang telah dikenal di dunia, sehingga mereka memperoleh sertifikat kualitas oleh ASEAN sebagai penghasil kopi arabika yang berkualitas ekspor. Kopi yang di ekspor merupakan kopi olah basah dan olah kering yang diberi merek “ Kopi Kintamani Bali ”. Kopi ini sudah diekspor ke beberapa negara seperti Jepang, Eropa, Amerika, dan Australia. Sehingga tidak dapat dipungkiri kopi tersebut sudah memiliki kualitas yang baik. Selain itu, desa ini juga dikenal sebagai desa penghasil jeruk. Jeruk yang diperoleh dari pertanian atau perkebunan di desa ini, di olah menjadi produk jadi yang berupa orange jam ataupun jus jeruk dalam kemasan botol. Dan salah satu potensi hasil pertanian yang dimiliki desa Catur adalah terong belanda yang di olah menjadi jus yang bermanfaat sebagai minuman yang berkasiat.

Saat ini desa Catur ini sudah dikembangkan menjadi desa agrowisata sehingga diharapkan para wisatawan semakin banyak yang tertarik mengunjungi desa ini apalagi ditambah dengan hasil perkebunan jeruk dan kopi yang sudah terkenal.

Desa Trunyan, Unik Dan Primitif


Desa Trunyan merupakan sebuah desa kuno di tepi danau Batur, Kintamani, Kabupaten Bangli. Desa ini merupakan sebuah desa Bali Aga, Bali Mula dengan kehidupan masyarakat yang unik dan menarik. Bali Aga, berarti orang Bali pegunungan, sedangkan Bali Mula berarti Bali asli. Kebudayaan orang Trunyan mencerminkan satu pola kebudayaan petani yang konservatif dan mungkin kelihatan sedikit primitif.

Desa Trunyan Pinggir Danau Batur

Berdasarkan folk etimologi, penduduk Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi. Versi pertama, orang Trunyanadalah orang Bali Turunan, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka ‘turun’ dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu mite atau dongeng suci mengenai asal-usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit.

Berdasarkan folk etimologi, penduduk Trunyan mempersepsikan diri dan jati diri mereka dalam dua versi. Versi pertama, orang Trunyan adalah orang Bali Turunan, karena mereka percaya bahwa leluhur mereka ‘turun’ dari langit ke bumi Trunyan. Terkait dengan versi ini, orang Trunyan mempunyai satu kepercayaan mengenai asal-usul penduduk Trunyan adalah seorang Dewi dari langit.

Versi kedua, orang Trunyan hidup dalam sistem ekologi dengan adanya pohon Taru Menyan, yaitu pohon yang menyebarkan bau-bauan wangi. Dari perdaduan kata “taru” dan “menyan” berkembang kata Trunyan yang dipakai nama desa dan nama penduduk desa tersebut.

Desa Trunyan terletak di sebelah timur danau Batur, letak ini sangat terpencil. Jalan darat dari Penelokan, Kintamani, hanya sampai di desa Kedisan. Dari Kedisan ke desa Trunyan orang harus menyeberang danau Batur selama 45 menit dengan perahu bermotor atau 2 jam dengan perahu lesung yang digerakkan dengan dayung. Selain jalan air, Trunyan juga dapat dicapai lewat darat, lewat jalan setapak melalui desa Buahan dan Abang.

Hawa udara desa Trunyan sangat sejuk, suhunya rata-rata 17 derajat Celcius dan dapat turun sampai 12 derajat Celcius. Danau Batur dengan ukuran panjang 9 km dan lebar 5 km merupakan salah satu sumber air dan sumber kehidupan agraris masyarakat Bali selatan dan timur.

Secara spesifik, terkait dengan kepercayaan orang Trunyan mengenai penyakit dan kematian, maka cara pemakaman orang Trunyan ada 2 macam yaitu:

Meletakkan jenazah diatas tanah dibawah udara terbuka yang disebut dengan istilah mepasah. Orang-orang yang dimakamkan dengan cara mepasah adalah mereka yang pada waktu matinya termasuk orang-orang yang telah berumah tangga, orang-orang yang masih bujangan dan anak kecil yang gigi susunya telah tanggal.
Dikubur / dikebumikan. Orang-orang yang dikebumikan setelah meninggal adalah mereka yang cacat tubuhnya, atau pada saat mati terdapat luka yang belum sembuh seperti misalnya terjadi pada tubuh penderita penyakit cacar, lepra dan lainnya. Orang-orang yang mati dengan tidak wajar seperti dibunuh atau bunuh diri juga dikubur. Anak-anak kecil yang gigi susunya belum tanggal juga dikubur saat meninggal.

Kuburan Desa Trunyan

Trunyan juga memiliki ciri khas lain yaitu tarian sakral Barong Brutuk. Tari ini dipentaskan pada saat upacara piodalan di Pura Pancering Jagat yang jatuh pada Purnamaning Kapat. Menurut kepercayaan masyarakat desa Trunyan, pementasan Barong Bruntuk merupakan suatu pertanda turunnya Ida Sang Hyang Widhi Wasa dalam manifestasinya sebagai Ratu Pancering Jagat, Ratu Ayu Dalem Pingit, dan Ratu Sakti Meduwegama. Tari ini bertujuan untuk memohon keselamatan pada Tuhan. Sisi unik desa Trunyan juga bisa dilihat dari sistem kemasyarakatannya. Pemuka desa dikenal dengan istilah khusus. Bukan Bendesa Adat maupun Kepala Desa, tetapi digunakan sebutan Jero Putus, Jero Gede, dan Jero Mekel. Yang menjadi pemuka desa juga dipanggil dengan sebutan Jero Kebayan Kiwa Tengen.

Batur Natural Hot Spring, Berendam Air Panas Di Pinggir Danau Batur


Kawasan obyek wisata Kintamanitidak hanya menawarkan panorama indah Gunung Batur dengan danaunya, tetapi ada beberapa obyek lain yang patut anda kunjungi di Kintamani ini. Salah satunya adalah pemandian air panas alami di pinggir danau Batur yang air panasnya bersumber dari gunung Batur.

Batur Natural Hot Spring

Pemandian air panas ini terletak di daerah Toyabungkah, Desa Batur, Kabupaten Bangli dan berjarak sekitar 90 kilometer dari Kuta. Berdasarkan dari namanya, Toyobungkah secara harfiah berasal dari kata “toya” yang artinya air dan “bungkah” yang berarti batu-batuan. Jadi Toyobungkah dapat diartikan air yang mengalir dari celah-celah bebatuan yang berasal dari kaki Gunung Batur.

Kawasan obyek wisata Toyabungkah ini secara profesional dikelola oleh desa Pekraman Batur yang kemudian memberi nama Batur Natural Hot Spring. Untuk bisa masuk obyek wisata ini, wisatawan domestik dikenakan tiket masuk sebesar Rp. 50.000, sementara wisatawan asing dikenakan tiket masuk sebesar US 10. Harga tersebut sudah termasuk juice welcome drink, towel, sabun, dan shampoo.

Di tempat ini wisatawan bisa merasakan sensasi mandi di pancuran air panas yang bersuhu 38-39 derajat celcius. Selain untuk menyegarkan tubuh dan pikiran, mandi air panas di tempat ini juga dipercaya berkhasiat untuk pengobatan penyakit, khususnya penyakit kulit.

Pemandangan Danau Batur terhampar di depan kolam renang. Sejumlah orang terlihat memancing di sisi danau. Di seputar area ini banyak keramba apung tempat mengembangbiakkan ikan mujair. Tak heran, salah satu hidangan paling populer di kawasan ini adalah ikan mujair.

Pengelola juga menyediakan sejumlah menu makanan yang bisa dimakan ketika berenang. Beberapa bale (tempat duduk lesehan) peristirahatan juga disediakan di  seputar kolam renang.

Di sisi kiri kolam renang, ada fasilitas air pancuran dan telaga kecil untuk siapa saja yang ingin menikmati air hangat dengan harga murah. Sebuah kotak sumbangan dan seorang penjaga terlihat menjaga pintu masuk.

Agrowisata Kopi Luwak Di Kintamani


Agrowisata Kopi Kintamani

Bagi anda yang penggemar kopi, mungkin sudah mengenal cita rasa Kopi Kintamani yang khas. Produk-produk kopi dari dataran tinggi Kintamani sudah mempunyai hak paten dan disertifikasi dengan merek Kopi Arabika Kintamani Bali.

Kualitas 1 dari kopi-kopi Kintamani ini apalagi dari hasil kebun organik diekspor ke Perancis, Jerman, Australia, Amerika Serikat, Jepang, dan Korea. Nah, sebagian besar yang beredar di pasar domestik adalah sisa produksi yang tak terserap pasar ekspor atau kopi-kopi sisa panen, yang disebut kopi rajutan. Kopi jenis ini adalah kopi petikan yang merajut buah kopi merah, kuning, dan hijau. Dan tentu saja memiliki kualitas rasanya kalah dari kualitas ekspor.

Terus bagaimana dengan Kopi Luwak Kintamani? Kopi asli Kintamani yang melalui fermentasi luwak menjadikan kualitas kopi dan nilai jual meningkat tajam. Bayangkan harga di tingkat petani saja Rp 1.500.000/kg. Tetapi hasil produksi kopi harus dari luwak liar. Jika dari luwak tangkaran, harga jauh lebih murah sekitar Rp 500.000/kg. Kelebihan Kopi Luwak Alami Kintamani adalah kualitas kopi yang memiliki rasa yang pekat dengan tingkat keasaman yang seimbang dengan rasa kopinya.

Untuk mengetahui lebih jauh tentang perkebunan kopi luwak ini, cobalah mampir ke Agrowisata Kopi Luwak B-36 yang letaknya di Desa Landih, Kintamani. Disini luwak dibiarkan hidup bebas dan memilih sendiri kopi mana yang mau dimakan. Luwak memiliki naluri alami untuk memilih kopi terbaik. Sehingga hasil dari kopi luwak pun menjadi kopi dengan kualitas terbaik.

Sepanjang Kintamani sekarang ini sudah bermunculan agrowisata-agrowisata baru baik agrowisata kopi biasa maupun kopi luwak. Ada yang memadukannya dengan perkebunan cokelat, ada juga dengan jahe atau vanili. Bisa anda coba semuanya dan letaknya juga tidak terlalu jauh.  Sebut saja Agrowisata Sailand Agro dan Santi Agrowisata di jalur Tampaksiring – Kintamani, Trisna Bali Agriculture di Desa Penglumbaran Susut atau di Buana Amertha Sari (BAS), Kintamani.

Banyak faktor yang menarik dari kunjungan ke perkebunan kopi terutama bagi siapa saja yang belum pernah merasakan suasana agrowisata di sini. Pengelolalan yang masih tradisional terutama dalam proses roasting yang hanya mengandalkan tungku api dari kayu bakar merupakan kekhasan yang ditawarkan di beberapa perkebunan di sini. Jadi sehabis menikmati pemandangan gunung Batur  dan danau Batur, alangkah nikmatnya bisa menikmati secangkir kopi di  agrowisata perkebunan kopi di kawasan Kintamani dalam udara yang dingin dengan pemandangan yang menakjubkan.

Desa Tradisional Penglipuran


Desa adat Penglipuran terletak di kabupaten Bangli yang berjarak 45 km dari kota Denpasar, Desa adat yang juga menjadi objek wisata ini sangat mudah ditemukan, karena letaknya yang berada di Jalan Utama Kintamani – Bangli. Desa Penglipuran ini juga tampak begitu asri, keasrian ini dapat kita rasakan begitu memasuki kawasan Desa. Pada areal Catus pata yang merupakan area batas memasuki Desa Adat Penglipuran, disana terdapat Balai Desa, fasilitas masyarakat dan ruang terbuka untuk pertamanan yang merupakan areal selamat datang. Kata penglipuran berasal dari kata penglipur yang artinya penghibur,  karena semenjak jaman kerajaan, tempat ini adalah salah satu tempat yang bagus untuk peristirahatan.

Desa Adat Penglipuran

Desa ini merupakan salah satu kawasan pedesaan di Bali yang memiliki tatanan yang teratur dari struktur desa tradisional, perpaduan tatanan tradisional dengan banyak ruang terbuka pertamanan yang asri membuat desa ini membuat kita merasakan nuansa Bali pada dahulu kala. Penataan fisik dan struktur desa tersebut tidak lepas dari budaya yang dipegang teguh oleh masyarakat Adat Penglipuran dan budaya masyarakatnya juga sudah berlaku turun temurun. Yang membedakan desa adat penglipuran ini dibandingkan dengan desa-desa lainnya di Bali adalah, Bagian depan rumah serupa dan seragam dari ujung utama desa sampai bagian hilir desa. Ciri khas desa tersebut terletak pada angkul – angkul (pintu gerbang) rumah penduduknya yang seragam. Ada 76 angkul – angkul yang berjajar rapi dari ujung utara hingga selatan desa. Angka76 ini menunjukan 76 keluarga utama atau pengarep.

Selain angkul- angkul seragam, desa yang terletak sekitar lima kilometer di utara Bangli ini juga memiliki sejumlah adat dan tradisi unik lainnya. Salah satunya, pantangan bagi kaum lelakinya untuk beristri lebih dari satu atau berpoligami. Laki – laki Desa Penglipuran dididik untuk setia kepada satu pasangan saja. Disini ada awig – awig(aturan adat) yang melarang praktik berpoligami. Jika melanggar, lelaki tersebut akan dikucilkan di sebuah tempat yang dikenal dengan nama Karang Memadu.

Menyusuri jalan utama desa kearah selatan anda akan menjumpai sebuah tugu pahlawan yang tertata dengan rapi.
Tugu  ini dibangun untuk memperingati serta mengenang jasa kepahlawanan Anak Agung Gede Anom Mudita atau yang lebih dikenal dengan nama kapten Mudita.Anak Agung Gde Anom Mudita,  gugur melawan penjajah Belanda pada tanggal 20 November 1947. Taman Pahlawan ini dibangun oleh masyarakat desa adat penglipuran sebagai wujud bakti dan hormat mereka kepada sang pejuang.

Jika anda ingin mengetahui desa tradisional ini lebih jauh, datanglah pada saat hari raya atau pada saat ada acara di Desa Adat Penglipuran ini. Karena suasana desa akan sangat jauh berbeda, sangat meriah dan anda bisa menemukan keunikan dan kekhasan desa ini.