Tour Ke Candidasa Dan Pesisir Timur Bali


Dalam tour ini kita akan mengunjungi objek-objek wisata yang terletak di bagian timur dan pesisir timur pulau Bali dan lama tour sekitar 9 jam perjalanan. Perjalanan dimulai dengan mengunjungi Gianyar sebagai sentra tenun khas Bali. Berikutnya kita menuju Klungkung tepatnya ke Taman Gili Kertha Gosa. Sebuah tempat yang dulunya dipergunakan sebagai tempat pengadilan pada masa kerajaan Klungkung.

Di tempat ini terdapat 2 buah bangunan yaitu Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang yang dilangit-langit ruangannya terdapat lukisan tradisional bergaya khas Kamasan yang menceritakan berbagai macam kisah Ramayana dan Mahabharata, serta kisah Sutasoma juga terlukis pada bangunan Bale Kambang.


Pura Goa Lawah merupakan tempat persinggahan kita berikutnya. Di pura ini terdapat sebuah goa yang dihuni oleh ribuan kelelawar yang dikeramatkan oleh penduduk sekitarnya. Pantai Candidasa merupakan tempat kunjungan berikutnya. Pantai yang cukup indah, dari pantai ini kita akan dapat melihat Pulau Nusa Penida yang masih merupakan bagian dari Bali. Makan siang akan disajikan di restaurant yang terdapat di wilayah ini.

Selanjutnya kita akan mengunjungi Desa Tenganan, sebuah desa kuno yaitu desa Bali Aga yang memiliki budaya dan adat istiadat yang sangat unik. Desa Tenganan memiliki identitas yang tidak dimiliki desa-desa di Bali pada umumnya. Misalnya bangunan rumah yang masih tradisional, Budaya Tenganan merupakan budaya tertua di Bali. Adat istiadat mereka diturunkan dari para leluhur sejak abad ke-11 yang hingga sekarang masih dipegang teguh. Inilah desa tertua di Bali, dengan hukum Bali kuno.

Tour selesai disini dan kita kembali ke hotel. Untuk informasi harga bisa menghubungi kami di:

PT. TOP-BALI CITRA WISATA
TXP Tours Bali
No. Tlp: 0361-755594, 755687
Flexi: 0361-7451049
GSM: 081 353 31 3434 (Nyoman)
Email: info@baliwisatamurah.com

Sumber: http://www.baliwisatamurah.com/paket-tour-di-bali/candidasa-east-coast-tour.php

Iklan

Desa Tihingan, Desa Pengrajin Gamelan Bali


Pengrajin Gamelan Desa Tihingan

Salah satu seni yang berkembang baik di Bali adalah seni musik tradisional, yaitu seni gamelan Bali. Dan salah satu desa yang yang menjadi sentra pengrajin dan pembuat instrumen gamelan adalah Desa Tihingan. Desa Tihingan merupakan salah satu desa yang menjadi tujuan wisata dengan masyarakatnya yang terkenal sebagai pembuat instrumen Gong (gamelan).

Desa Tihingan terletak di Kecamatan Banjarangkan, Kabupaten Klungkung. Kurang lebih 3 km ke arah barat dari kota Semarapura. Sangat mudah menemukan desa ini, letaknya pun tidak jauh dari kota.

Sebagian besar penduduk desa memang bergelut di dunia seni gamelan ini, dan  keahlian mereka tentunya didapat secara turun-temurun dari nenek moyangnya. Gong dari Tihingan ini terkenal akan kualitas bahan dan tentunya kualitas suara gamelan. Dan tak heran hasilnya banyak wisatawan domestik dan internasional yang tertarik mengoleksi gamelan Bali ini.

Apalagi hampir semua sanggar musik dan banjar di Bali membeli gamelan dari Desa Tihingan. Dan bahkan banyak yang dikirim ke luar negeri untuk aset di beberapa kedutaan RI.

Selain membuat Gong, masyarakat di desa ini juga pandai membuat berbagai macam gamelan lainnya seperti Gender, Semara Pegulingan, Kelentangan dan Angklung.

Jika anda berlibur di Bali, cobalah mampir ke Desa Tihingan ini, sambil mengenal lebih jauh alat musik tradisional Bali beserta cara pembuatannya.

Nuansa Kerajaan Di Puri Anyar Kerambitan


Setelah puas menikmati keindahaan Puri Agung Kerambitan, sempatkan pula jalan-jalan dan menikmati suasana di Puri Anyar Kerambitan. Letaknya juga tidak jauh, karena kedua puri ini masih mempunyai hubungan darah, keturunan raja Tabanan.

Puri Anyar Kerambitan dulunya merupakan istana Kerajaan Tabanan yang dibangun pada abad ke-17. Walaupun sudah sangat lama berdirinya keadaan Puri Anyar Kerambitan ini masih terawat dengan baik dengan bentuk bangunan berciri khas Balinya. Di dalam objek wisata puri ini terdapat pula peninggalan purbakala dan lukisan-lukisan terkenal yang dibuat pada zaman kerajaan terdahulu.

Wisatawan yang berkunjung ke Puri Anyar Kerambitan akan disambut dengan berbagai macam atraksi kesenian Bali seperti Tektekan, Joged Bumbung, Andir dan Tarian Legong Leko serta dilengkapi dengan penyungguhan santap malam ala kerajaan sesuai dengan pesanan para tamu yang datang. Sehingga para wisatawan yang berkunjung akan menikmati kehidupan ala kerajaan di Puri Anyar Kerambitan ini.

Menurut Bapak Agung Ngurah Oka Silagunadha (generasi ke-9 Raja Tabanan) awal mula dibukanya puri ini menjadi objek wisata di Bali pada tahun 1967. Bermula dari ide beliau untuk membuat program penyambutan dan penyuguhan santap malam ala tamu kerajaan yang diiringi dengan kegiatan kesenian kepada para tamu yang datang. Lalu beberapa bulan kemudian setelah puri ini dibuka untuk umum banyak wisatawan lokal maupun asing yang datang mengunjungi objek wisata Puri Anyar Kerambitan. Di antara tamu yang datang tersebut, terdapat kru dari radio BBC London, televisi Perancis, televisi Jepang dan beberapa wartawan dari Eropa. Sejak saat itu objek wisata Puri Anyar Kerambitan menjadi semakin populer di manca negara untuk kunjungan wisata, acara budaya dan makan malam.

Jadi yang mau menikah di Bali dengan nuansa kerajaan (Royal Wedding) disertai jamuan makan malam (Royal Dinner), bisa langsung menghubungi Puri Anyar Kerambitan, atau bisa melalui kami ya 🙂

Museum Subak Tabanan


Salah satu alternatif obyek wisata yang mendidik untuk anak-anak anda yaitu Museum Subak yang terletak di Desa Sanggulan, Kecamatan Kediri,  Tabanan, Bali. Tepatnya di jalan Gatot Subroto, sekitar 2 km timur kota Tabanan.

Museum ini patut sekali anda kunjungi, karena disini kita mengetahu sejarah dan budaya sistem subak yang masih eksis sampai sekarang. Letaknya pun satu jalur dengan obyek-obyek wisata terkenal di Tabanan, seperti dari Alas Kedaton menuju Tanah Lot, anda bisa sempatkan singgah ke museum ini.

Museum subak diresmikan pada tanggal 13 Oktober 1981 oleh Gubernur Bali Prof. Dr. Ida Bagus Mantra, dan berdirinya museum ini digagasi oleh I Gusti Ketut Kaler, pakar adat dan agama yang waktu itu menjabat Kanwil Departemen Agama Propinsi Bali. Ia melihat perlu adanya lembaga adat Subak yang berupaya melestarikan warisan luhur budaya bangsa sejak abad XI ini. Upaya itu akhirnya terwujud. Mulanya disebut “Cagar Budaya Museum Subak“.

Di Museum Subak ini terdapat ruang pameran, ruang audio visual, ruang belajar, fasilitas penginapan, perpustakaan, kantor dan miniatur sistem irigasi. Di ruang pameran terdapat semua peralatan dan perlengkapan yang digunakan dalam sistem pertanian subak. Mulai dari alat membajak sawah sampai memanen padi. Terdapat juga sistem kalender perhitungan hari-hari baik sistem pertanian di Bali.

Adapun tujuan didirikannya Museum Subak adalah sebagai berikut:

  • Menggali dan menghimpun berbagai benda dan data yang berkaitan dengan subak, termasuk yang mempunyai nilai sejarah serta menyuguhkannya sebagai sarana study/penelitian.
  • Menyelamatkan, mengamankan dan memelihara berbagai benda yang berkaitan dengan subak.
  • Menyuguhkan sebagai bahan informasi, dokumentasiu serta media pendidikan tentang subak.
  • Tempat rekreasi / obyek pariwisata

Yang mau berkunjung sekedar untuk jalan-jalan, penelitian atau studi tour, museum subak buka mulai jam 07.00 sampai 18.00

Sanur Village Festival (SVF) 2011


Sanur Village Festival 2011

Sanur Village Festival 2011

Tak terasa event Sanur Village Festival sudah berjalan ke-6 kalinya. Kali ini event SVF ini akan dipusatkan di Pantai Matahari Terbit dan digelar mulai tanggal 18 – 22 November 2011. Dan juga digabung dengan sebuah event nasional program kementrian Pertanian yaitu Pekan Flora Flori Nasional (PF2N).

Jadi event SVF ini sangat spesial banget dan pastikan anda hadir ya. Untuk Opening Ceremony atau pawai pembukaan akan digelar tanggal 19 November mulai pukul 15.00 di Main Stage (Matahari Terbit). Setiap tahun Sanur Village Festival selalu memberikan nuansa baru dalam program yang digelar, sehinggal tidak salah SVF menjadi salah satu event yang sangat ditunggu-tunggu para wisatawan dan juga warga lokal.

Yang spesial adalah program GOWES fun bike pada hari ke-3 yang mulai dari Monumen Bajra Sandi. Ada juga program Village Cycling Tour ini  setiap pukul 09.00 – 12.00 dan session kedua mulai 13.00 – 16.00. Ada juga program Kompetisi Foto bagi yang suka photography, berbagai aliran musik dari Indonesia dan  berbagai negara lainnya akan selalu menjamu anda setiap harinya.

Dan tentunya acara food bazaar (food festival) yang ditunggu-tunggu para pengunjung. Menikmati acara sambil wisata kuliner…dijamin kenyang!! 🙂 Food Bazaar dipusatkan di main area selama festival berlangsung.

Selama 5 hari Sanur Village Festival 2011 ini akan digelar berisi banyak sekali acara yang sangat menarik. Yang penasaran dan pingin tahu jadwal lengkap Sanur Village Festival, ada disini. Download dalam format PDF juga ada. Dan akhir kata…selamat datang di Sanur 🙂

 

Berwisata Ke Desa Julah Dan Desa Sembiran, Desa-Desa Kuno Di Buleleng


Jika anda suka wisata sejarah terutama peninggalan-peninggalan sejarah megalitik, berkunjunglah ke Desa Julah Dan Desa Sembiran, yang terletak sekitar 30 Km timur kota Singaraja, dan merupakan wilayah kecamatan Tejakula, Buleleng.

Tidak seperti desa kuno lainnya di Bali, Desa Julah Dan Desa Sembiran memiliki peninggalan yang sama, yaitu berupa batu-batu besar yang diyakini berusia 2000 tahun sebelum masehi, jadi kedua desa ini adalah desa tertua di Bali.

Di Desa Julah terdapat sebuah situs yaitu Situs Batu Gambir Upit. Dalam temuan di situs ini terdapat beberapa buah artefak dan ekofak, baik yang merupakan temuan lepas ataupun temuan asosiasi. Temuan lainnya berupa fragmen gerabah merupakan temuan yang paling banyak dihasilkan dengan tipe-tipe semisal tipe piring, paus, kendi, dan tutup.

Sedangkan di Desa Sembiran, Prof. Ketut Rindjin dalam sejarah singkat Desa Sembiran mengungkapkan, 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi ditemukan di kawasan Desa Sembiran pada tahun 1961 oleh R.P Soejono yang kemudian dikelompokkan menjadi lima perabotan kuno.

Ada jenis perabotan berbentuk pipih dari besi, alat pemotong persegi dari batu, kapak tangan dari batu, palu yang terbuat dari batu dan serpihan beberapa perabot dari batu, namun dari temuan itu tidak satupun fosil yang ditemukan sampai sekarang, ungkap Prof. Rindjin.

Selain penemuan 40 perabotan kuno yang terbuat dari batu dan besi, di Desa Sembiran juga ditemukan 17 Pura dengan ciri batu besar. Diperkirakan batu-batu besar tersebut dibuat pada jaman megalithicum (jaman batu) yang digunakan sebagai tempat persembahyangan.

Dan yang paling penting adalah ditemukannya 20 prasasti perunnggu dan sebagian berada di Desa Julah dan sebagian lagi di Desa Sembiran. Prasasti ini menceritakan sejarah kedua desa ini pada masa pemerintahan kerjaan Bali Kuna.

Dan untuk melestarikan budaya desa tua ini, telah di bangun kembali sebuah rumah tua yang sesuai dengan bentuk aslinya, yang pembangunannya dibiaya oleh pemerintah Kabupaten Buleleng.

Selain memiliki rumah tua yang unik dan tidak ada duanya di Bali, desa-desa ini juga memiliki potensi seni dan adat istiadat yang masih bertahan hingga saat ini, bahkan beberapa tarian sakral masih dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara di desa setempat, sedangkan pada adat istiadat, warga desa sembiran masih tetap memegang tradisi budaya lama bali baik dalam lingkungan keluarga maupun bermasyarakat.

Pura Goa Gajah, Simbol Akulturasi Hindu Buddha


Pura Goa Gajah
Pura Goa Gajah

Mengunjungi Pura Goa Gajah seakan-akan anda akan diajak masuk ke beberapa ratus tahun yang lampau dimasa jaman kerajaan Bali Kuno dimana agama Hindu dan Buddha hidup rukun berdampingan.  Hal ini jelas tergambar pada bagian-bagian Pura yang masih tersisa.

Pura Goa Gajah terletak di Desa Bedulu, kecamatan Blahbatuh kabupaten Gianyar. Jaraknya sekitar 26 Km dari Denpasar atau 40 Km dari Kuta, 5 Km dari Ubud dan sangat mudah dijangkau karena berada di jalur utama Denpasar – Tampaksiring. Berada di aliran sungai Petanu dengan hamparan sawah yang indah.

Nama Goa Gajah belum diketahui asal usulnya secara pasti. Diperkirakan nama ini berasal  dari perpaduan nama Pura Guwa (sebutan masyarakat setempat) dengan nama kuna yang termuat dalam prasasti-prasasti yakni Ergajah dan Lwa Gajah. Nama-nama Anta Kunjarapada dan Ratna Kunjarapada itu dari akhir abad kesepuluh sampai akhir abad ke Empat belas ( Negara Kertagama ). Kekunoan ini didukung oleh Peninggalan Purbakala yang terdapat di sekitar pura.

Di pelataran Pura Goa Gajah terdapat Petirtaan kuno dengan ukuran 12 x 23 Meter, terbagi atas tiga bilik. Dibilik utara terdapat 3 buah Arca Pancuran dan di bilik Selatan ada 3 buah Arca Pancuran pula, sedangkan di bilik tengah hanya terdapat apik arca.  Di sekitar goa juga terdapat kolam pertitaan dengan tujuh patung widyadara-widyadari yang sedang memegang air suci. Konon ketujuh pancuran ini sebagai perlambang tujuh sungai penting yang sangat dihormati di India

Petirtan Goa Gajah
Petirtan Goa Gajah

Lebih kurang 13 meter di sebelah utara Petirtaan terdapat Goa atau Ceruk Pertapaan berbentuk huruf T. Lorong Goa berukuran : lebar 2,75 Meter, tinggi 2,00 Meter. Dikiri kanan lorong terdapat ceruk-ceruk untuk bersemedi, jumlahnya 15 buah. Pada ceruk paling Timur terdapat Trilingga dan diujung Barat terdapat Arca Ganeca.

Dihalaman Goa Pura Gajah diketemukan pula Fragmen bangunan yang belum bisa direkonstruksi. Tembok keliling menjadi penanggul tebing disebelah Barat pula ini. Lebih kurang 100M disebelah Selatan Petirtaan didapati sisa-sisa Percandian Tebing. Sebagian kaki candi itu masih ada bagian – bagian yang lain telah runtuh ke kaki yang ada didepannya.

Sedangkan peninggalan agama Buddha dapat ditemukan di sebelah selatan Goa Gajah melalui parit yaitu berupa arca Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba. Buddha dalam sikap Dhyani Buddha Amitaba ini dalam sistem pantheon Buddha Mahayana sebagai Buddha pelindung arah barat alam semesta