Puri Agung Blahbatuh, Obyek Wisata Puri Baru Di Bali


Puri Agung Blahbatuh

Puri Agung Blahbatuh di Kecamatan Blahbatuh, Kabupaten Gianyar, terus dibenahi untuk menjadi objek wisata budaya baru yang memiliki nilai sejarah, dimana di puri ini juga tersimpan benda bersejarah berupa topeng Gajah Mada.

Puri seluas empat hektare itu sudah dibenahi dan lebih menonjolkan arsitektur tradisionalnya yang masih utuh.  Inilah nilai lebih Puri Agung Blahbatuh ini, dimana wisatawan dapat melihat keunikan arsitektur dan topeng Gajah Mada.

Puri juga diharapkan menjadi pelopor pelestarian seni, oleh sebab itu  akan berkala dilakukan pemberian penghargaan kepada seniman Bali.

Penghargaan tersebut berupa patung Gajah Mada yang bertujuan untuk membangkitkan aura topeng Gajah Mada yang tersimpan di Puri Agung Blahbatuh

Topeng Gajah Mada

Menurut penglingsir puri, aura topeng Gajah Mada sangat penting untuk dibangkitkan karena jiwa kepahlawan dari Mahapatih Majapahit itu sangat penting untuk dihormati. Gajah Mada merupakan pemersatu nusantara yang terkenal dengan sumpah Palapa-nya.

Selain topeng Gajah Mada, masih ada 20 topeng bersejarah lainnya yang tersimpan di Puri Blahbatuh. Puluhan topeng atau tapel itu,  diupacarai pada hari-hari tertentu, sehingga kesakralannya tetap terjaga.

Iklan

Mengintip Goa Jepang


Goa Jepang Klungkung, Bali

Jika anda menuju kota Semarapura Klungkung melalui jalur Kota Gianyar, anda pasti melihat lubang-lubang kecil di sepanjang jalan dekat kota Klungkung tepat di Banjar Koripan Desa Banjarangkan, lubang-lubang itulah yang dikenal dengan nama goa jepang.

Goa Jepang dibuat oleh orang-orang jepang pada masa awal penjajahan sekitar tahun 1941-1942 pada dinding tebing diatas sungai Tukad Bubuh. Ada 16 lubang goa jepang disini yang kesemuanya memiliki kedalaman 4 meter, 2 lubang yaitu di ujung utara dan ujung selatan merupakan goa yang berdiri sendiri, sedang 14 lubang lagi saling berhubungan yang dihubungkan oleh sebuah lorong panjang.

Tujuan dibangunnya goa ini yaitu sebagai lokasi perlindungan para tentara Jepang dalam upayanya mempertahankan diri dari serangan tentara sekutu di masa Perang Dunia Kedua. Goa Jepang juga banyak terdapat di daerah lain di Indonesia, mengingat kita dulunya sempat dijajah Jepang, walaupun singkat tetapi cukup banyak meninggalkan peninggalan bersejarah.

Peninggalan-peninggalan ini wajib kita lestarikan untuk tetap menjaga nilai nasionalisme dan patriotisme bangsa Indonesia. Sekali lagi, jika anda kebetulan lewat daerah ini, tidak ada salahnya anda sempatkan mampir ke Goa Jepang ini ya.,Happy holiday….

Goa Lawah, Istana Para Kelelawar


Pura Goa Lawah

Perjalanan kita di Klungkung kali ini akan mengunjungi sebuah Goa yang berada di sebelah timur Kota Semarapura yaitu obyek Wisata Goa Lawah. Lawah sendiri artinya kelelawar, jadi Goa Lawah merupakan goa yang dihuni oleh ribuan kelelawar pemakan buah. Disini juga berdiri sebuah pura yang dibangun pada abad ke-11 yang merupakan pura Sad Kahyangan (Kahyangan Jagat), tempat memuja Tuhan dengan manifestasiNYA sebagai Dewa Baruna, penguasa lautan.

Pura Goa Lawah terletak di desa Pesinggahan, Kecamatan Dawan, 10 km timur kota Semarapura Klungkung dan sekitar 50 km dari Denpasar. Tidak sulit mencari obyek wisata ini karena berada di jalur menuju Karangasem dan terdapat 3 obyek wisata yang bisa anda nikmati yaitu Goa, Pura dan Pantai.

Goa lawah merupakan sebuah goa alami terletak di sebuah bukit karang yang bernama Bukit Tengah. Goa Lawah ini dalam beberapa bukti sejarah disebutkan memiliki hubungan dengan Goa Raja di Komplek Pura Besakih, yaitu kedua Pura ini dihubungkan oleh goa tersebut.

Diatas Goa tumbuh pohon besar yang sangat rimbun dan dimulut goa berdiri pelinggih yang menambah keagungan Pura Goa Lawah,  dan dengan ribuan kelelawar  yang bergelantungan di langit-langit gua tidak salah Pura Goa Lawah bagaikan  istana para kelelawar. Untuk Sejarah Goa Lawah bisa dibaca disini.

Museum Semarajaya Kerta Gosa


Mungkin banyak dari anda yang belum tahu kalau di dalam komplek Taman Gili Kerta Gosa terdapat sebuah museum yaitu Museum Semarajaya. Museum Semarajaya dibangun pada Gedung Bekas Sekolah MULO (Sekolah Menengah Jaman Belanda) dan bekas SMPN I Klungkung yang terletak dalam komplek Kertha Gosa dan Pemedal Agung (pintu bekas kerajaan Klungkung), tepatnya di Jalan Untung Surapati, Klungkung.

Museum Semarajaya Klungkung

Di dalam Museum dipamerkan barang-barang dari jaman prasejarah sampai benda-benda yang dipergunakan selama perang puputan Klungkung. Museum Semarajaya diresmikan oleh Menteri Dalam Negeri pada tanggal 28 April 1992. Dalam Museum ini dapat dilihat barang-barang yang dipergunakan sebagai perlengkapan upacara adat oleh raja-raja Klungkung serta foto-foto dokumentasi keturunan raja-raja di Klungkung.

Jika anda jalan-jalan ke Kerta Gosa, tidak ada salahnya anda juga mampir ke ini, karena letaknya juga dalam komplek taman tepatnya di sebelah barat Taman Gili Kerta gosa. Bangunan museum memiliki gaya arsitektur unik yang mengesankan yaitu perpaduan dari arsitektur gaya Belanda jaman dulu dengan arsitektur tradisional Bali.

Gedung tersebut memang dibangun pemerintah Belanda setelah runtuhnya kerajaan Klungkung pada tanggal 28 April 1908, jadi jelasnya gedung tersebut dibangun pada tahun 1920. Kini gedung yang penampilannya lain daripada yang lain diantara gedung-gedung yang ada di lingkungan wilayah tersebut, dipergunakan oleh pemerintah Daerah Kabupaten Daerah Tingkat II Klungkung sebagai gedung Museum Semarajaya, setelah mendapat rehab yang intensif. Gedung ini memang menonjolkan kharismanya tersendiri dan menimbulkan daya pesona bagi siapa saja yang memandangnya terutama bagi wisatawan mancanegara maupun nusantara yang banyak berkunjung ke komplek Kertha Gosa.

Keunikan Kerta Gosa Di Klungkung Bali


Kerta Gosa adalah salah satu obyek wisata andalan kabupaten Klungkung, Bali. Dibangun pada tahun 1686 oleh Dewa Agung Jambe, Taman Gili Kerta Gosa memiliki keunikan tersendiri yang tidak dimiliki obyek wisata lainnya. Kerta Gosa adalah sebuah bangunan terbuka (bale) yang secara resmi merupakan bagian dari kompleks Puri Semarapura.

Taman Gili Kertagosa

Terletak di jantung kota Semarapura Ibukota Kabupaten Klungkung, di sebelah pasar utama, Kerta Gosa telah direnovasi dan dilestarikan oleh pemerintah. Di dalam tembok dengan ukiran Bali tradisional, terdapat dua bangunan tinggi berdiri yaitu, disebut Bale Kerta Gosa dan Bale Kambang (Taman Gili). Bale Kerta Gosa merupakan sebuah bangunan tinggi di sudut kanan setelah pintu masuk, serta Bale Kambang yang lebih besar terletak di tengah dan dikelilingi oleh kolam.

Selain arsitektur bangunan yang indah, keunikan Kerta Gosa terletak di langit-langit bale yang ditutupi dengan lukisan tradisional bergaya Kamasan. Kamasan adalah sebuah desa di kecamatan Klungkung yang terkenal dengan ciri khas lukisan wayangnya. Lukisan Kamasan biasanya mengambil epik seperti Ramayana atau Mahabharata sebagai tema lukisan. Lukisan Kamasan biasanya ditemukan di Pura-Pura sebagai hiasan yang memiliki banyak arti.

Sebelumnya lukisan di langit-langit Kerta Gosa dibuat pada kain, namun pada tahun 1930 dipugar dan dicat pada eternit. Lukisan-lukisan di langit-langit Kerta Gosa menawarkan pelajaran rohani yang berharga. Jika seseorang melihat hal ini secara rinci, pada setiap bagian langit-langit menceritakan cerita yang berbeda, terdapat satu bagian yang bercerita tentang karma dan reinkarnasi, dan bagian lain menggambarkan setiap fase kehidupan manusia dari lahir sampai mati. Lukisan dibagi menjadi enam tingkatan, yang mewakili akhirat, serta yang paling atas yaitu nirwana.

Bale Kambang adalah sebuah bangunan indah di tengah kolam. Lukisan Kamasan di langit-langit menggambarkan kisah dari epik Sutasoma. Kedua sisi dari jembatan menuju bale dijaga oleh patung-patung yang mewakili karakter dari epik dengan latar belakang kolam teratai. Tema dalam lukisan menunjukkan bahwa bangunan tersebut difungsikan sebagai tempat bagi keluarga kerajaan untuk mengadakan upacara agama untuk ritual Manusa Yadnya seperti pernikahan dan upacara potong gigi.

Lukisan Wayang Kamasan Di Kertagosa

Kerta Gosa ternyata juga pernah difungsikan sebagai balai sidang pengadilan yaitu selama berlangsungnya birokrasi kolonial Belanda di Klungkung (1908-1942) dan sejak diangkatnya pejabat pribumi menjadi kepala daerah kerajaan di Klungkung (Ida I Dewa Agung Negara Klungkung) pada tahun 1929. Bahkan, bekas perlengkapan pengadilan berupa kursi dan meja kayu yang memakai ukiran dan cat prade masih ada. Benda-benda itu merupakan bukti-bukti peninggalan lembaga pengadilan adat tradisional seperti yang pernah berlaku di Klungkung dalam periode kolonial (1908-1942) dan periode pendudukan Jepang (1043-1945). Pada tahun 1930, pernah dilakukan restorasi terhadap lukisan wayang yang terdapat di Kerta Gosa dan Bale Kambang oleh para seniman lukis dari Kamasan dan restorasi lukisan terakhir dilakukan pada tahun 1960.

Situs Goa Garba


Goa Garba merupakan salah satu dari sekian banyak situs peninggalan purbakala pada aliran sungai Tukad Pakerisan. Goa ini terletak di Banjar Sawegunung, Desa Pejeng Kaja, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Bali. Tepatnya disebelah timur kantor Kepala Desa Pejeng.

Goa Garba berada dibawah Pura Agung Pengukur-ukuran,  Goa ini aslinya adalah sebuah ceruk pertapaan yang dipahat pada dinding  jurang sungai Pakerisan, untuk mencapai cagar budaya ini kita harus terlebih dahulu turun melewati pintu gerbang gapura yang tangganya tersusun rapi dan terbuat dari batu kali. Di tengah-tengah antara tangga yang terbuat dari susunan batu kali tersebut terdapat bekas telapak kaki manusia yang konon menurut cerita adalah telapak kaki yang membuat tempat pertapaan itu sendiri yaitu Patih Kebo Iwa.

Diatas Goa Garba terdapat beberapa kolam dan pancuran dimana pada sisi salah satu kolam tersebut sebuah lubang masuk menuju goa. Di lokasi Goa Garba terdapat sebuah tulisan yang dipahat berbunyi “ Sra’. Goa Garba diperkirakan dibangun sekitar abad 12 Masehi pada masa pemerintahan Raja Sri Jayapangus, tertulis pada prasasti yang terdapat pada Pura Pengukur-ukuran.

Obyek Wisata Yeh Pulu, Relief Kuno Pada Tebing Batu


Nama Yeh Pulu bukan diambil dari relief yang ada pada dinding-dinding tebing, melainkan dari gentong air yang berada di mata air suci yang ada disana dimana air yang keluar ditampung dalam gentong air dari batu padas kemudian dialirkan ke areal persawahan disekitarnya. Kata “Yeh” berarti air, dan “Pulu” berarti gentong.

Relief kuno ini terletak di Dusun Batulumbang, Desa Bedulu, Kecamatan Blahbatuh, Gianyar Bali. Kurang lebih 26 Km dari Denpasar, dan tidak jauh dari obyek wisata Pura Goa Gajah. Untuk mencapai situs Obyek Wisata Yeh Pulu ini, anda mesti berjalan kaki sekitar 300 meter menyusuri jalan setapak dengan pemandangan persawahan yang indah.

Setelah melewati pintu masuk, anda akan melihat pahatan-pahatan pada tebing batu padas membentuk relief dengan alur cerita tentang kehidupan pada zaman kerajaan Bali kuno. Panjang relief ini sekitar 25 meter dengan tinggi 2 meter. Pertama kali ditemukan oleh Punggawa Kerajaan Ubud pada tahun 1925, dan selanjutnya diteliti kembali serta dipublikasikan oleh Jawatan Purbakala Kolonial Belanda yang dipimpin oleh Dr.W.F Sutterhiem pada tahun 1929.

Disamping pahatan-pahatan klasik Bali, Monumen ini juga memiliki Ceruk-ceruk Pertapaan Raja Bedahulu sebelum gugur menghadapi laskar kerajaan Majapahit pada tahun 1343 masehi. Relief Yeh Pulu merupakan salah satu diantara sekian banyak monumen sejarah yang dibangun pada zaman Bali Kuno ( abad ke 14 masehi ) yang sarat mengandung nilai estetika yang harus kita lestarikan.